Senin, 06 Oktober 2014

Mati membela harta termasuk Syahid

Sudah sangat lazim bagi umat Islam pad umumnya bahwa kalau seseorang mati karena membela agama atau mati dalam pertempuran melawan musuh Islam, maka itu termasuk mati syahid yang dijamin surga. Namun ternyata yang dikatakan mati syahid tidak hanya itu saja tetapi termasuk orang yang mati karena mempertahankan hartanya dari tangan perampok juga termasuk orang yang mati syahid. Hal itu telah dikatakan oleh Rasulullah sebagaimana hadits berikut, Dari ‘Abdullah bin ‘Amr RA, ia berkata : Saya mendengar Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka dia mati syahid”. [HR. Bukhari juz 3, hal. 108]

Hidup Di Tengah Era Globalisasi PORNOGRAFI

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu setia mengikuti peyunjuknya.
Jaman Globalisasi, jaman yang menyadarkan manusia bahwa bumi benar-benar sesuatu yang sangat kecil dibandingkan alam raya. Namun ditengah-tengah nikmat Allah yang demikian besar semakin banyak manusia yang makin tidak sadar apa dan kenapa mereka hidup di dunia dan apa sebenarnya mereka dihidupkan dan untuk tugas apa mereka itu ada dan hidup.
.
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu di kembalikan. (QS. 2:28)

Kemulyaan yang tinggi adalah taqwa

Apakah yang dimaksud dengan kemulyaan yang tinggi itu sama dengan derajat yang tinggi ? Allah menegaskan di dalam Al-qur’an bahwa “Sesungguhnya orang yang paling mulya di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa” [QS.Al-hujurat:13]. Sedangkan kita tahu bahwa petunjuk atau jalanya untuk menjadi orang yang bertaqwa itu adalah dengan Al-qur’an sebagaimana Allah katakan ,“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” [QS.Al-baqarah:2].

Karena itu untuk mendapatkan kemulyaan yang tinggi di sisi Allah tidak lain adalah dengan AL-qur’an, sedangkan Allah akan meninggikan derajat bagi orang yang mengikuti ayat-ayatNya. Namun kebanyakan manusia malah lebih mengutamakan hawa nafsunya yang rendah, dan bagi mereka diumpamakan seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. [QS.Al-A'raaf : 176]